Kepala Dusun Gili Meno, Masrun, menyebut warganya menggantungkan hidup dari sektor perikanan, pariwisata, dan perdagangan pesisir. Masrun mengatakan keseimbangan ekosistem di pulau ini diatur menggunakan hukum adat berupa awig-awig.

Menurut Masrun, warga Gili Meno rutin melakukan rehabilitasi terumbu karang dan penanaman mangrove. Selain itu, patroli pengawasan perairan (ronda laut) hingga aksi bersih pantai dan edukasi lingkungan di Gili Meno terus dilakukan.

"Yang kami harapkan adalah Gili Meno dapat terus berkembang sebagai pulau yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta generasi anak cucu kami," ungkap Masrun.

Masrun juga menyinggung peran penting kelompok perempuan Gili Meno dalam rantai ekonomi hijau. Mereka mengolah limbah botol dan sampah plastik menjadi pernak-pernik suvenir bernilai jual tinggi. Langkah kolaboratif ini dinilai menjadi bukti konkret praktik blue economy (ekonomi biru) agar laut tetap terlindungi tanpa mematikan mata pencaharian warga lokal.