Kanit Reskrim Polsek Semin, Aiptu Iriyanto, mengatakan dari hasil pemeriksaan, JM mengungkapkan bahwa Senin (3/8) pukul 01.30 merasa perutnya sakit. Di saat bersamaan suami dan anaknya tidur di kamar.

"JM lalu ke kamar kosong di rumahnya lalu melahirkan bayi laki-laki tanpa bantuan medis," katanya.

"Anak yang pertama lahir normal, bantuan medis, di bidan juga. Tapi yang kedua, tidak dan yang ketiga juga tidak, semua itu suaminya tidak tahu karena mohon maaf suaminya gegar otak pascajatuh dari pohon," ucapnya.

Dari pemeriksaan yang dilakukan terungkan jika JM (34) membuang anak ketiganya di pekarangan rumah tetangganya sendiri karena tidak memiliki biaya untuk merawat. Selain itu suami JM mengalami gangguan otak setelah jatuh dari pohon.

"Untuk alasannya waktu itu kita tanyakan kepada tersangka dan jawabannya karena takut tidak bisa membiayai ataupun tidak bisa merawat," kata Kanit Reskrim Polsek Semin, Aiptu Iriyanto kepada wartawan di Polres Gunungkidul, Selasa (1/9/2026).

Iriyanto menyebut sehari-hari JM merupakan ibu rumah tangga. Sedangkan suaminya adalah buruh serabutan karena sempat mengalami gangguan pada otak pascakecelakaan.

"Jadi JM ini ibu rumah tangga, kalau suaminya itu kerja serabutan. Jadi kalau ada yang nyuruh metik pohon kelapa, kerja di ladang itu baru bekerja," ujarnya.

Kanit Reskrim Polsek Semin, Aiptu Iriyanto, menyebut JM tak menunjukkan gelagat mencurigakan usai membuang bayi 50 meter dari rumahnya di Kemejing, Semin pada Senin (3/8) lalu. JM bahkan tetap memasak dan mengantar anak ke sekolah seperti biasa.