NADIKABAR.COM — Ratusan pohon ditanam di kawasan hutan lindung Pura Luhur Batukaru, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan, Rabu (26/8/2026). Pohon yang ditanam terdiri atas 50 pohon mahoni, 30 pohon beringin, dan 20 pohon cempaka di areal seluas 1 hektare.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi pemerintah, masyarakat adat, dan pihak swasta, khususnya Nuanu Social Fund serta Bali Tourism Board.

Kabid Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Ketut Subandi, mengatakan reforestasi tidak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak pohon yang ditanam. Menurutnya, yang lebih penting adalah memastikan kawasan kembali memiliki fungsi ekologis yang baik.

"Karena itu, arah, target, dan jangka waktu pemulihan harus ditentukan berdasarkan kondisi ekologis masing-masing kawasan. Sehingga upaya yang dilakukan benar-benar memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat," ujar Subandi.

Ia juga mengapresiasi langkah pihak swasta dan pelaku pariwisata yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Bendesa Adat Wongaya Gede, I Ketut Sucipta, mengatakan masyarakat yang menjaga lingkungan di kawasan Pura Luhur Batukaru bukan hanya berasal dari Wongaya Gede. Puluhan masyarakat yang tersebar di delapan desa adat, dengan 12 banjar adat, turut melestarikan dan menjaga kawasan hutan di areal tersebut.

"Nanti masyarakat di sini khususnya Wongaya Gede akan dilibatkan dalam proses perawatan dan pemeliharaan sampai pohon benar-benar tumbuh mandiri," tegasnya.

Auditya Sari dari Nuanu Social Fund, didampingi Chairman of the Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, mengatakan reforestasi tidak selesai ketika pohon sudah ditanam. Justru sebagian besar kebutuhan pemeliharaan dan risikonya berada setelah penanaman.

"Jadi setelah ditanam, tim dari Nuanu bersama masyarakat setempat juga akan memantau perkembangan pohon tersebut," jelasnya.

Awalnya, reforestasi akan dilakukan di Kota Denpasar. Namun, setelah dilakukan assessment risiko, rencana tersebut urung dilakukan. Setelah berkoordinasi dengan DKLH Provinsi Bali, lokasi kemudian dipilih di Kabupaten Tabanan, khususnya kawasan hutan lindung Pura Luhur Batukaru.

Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengatakan Bali Tourism Board juga akan terus menjajaki peluang kolaborasi dengan mitra industri lainnya untuk mendorong partisipasi sektor swasta dalam inisiatif serupa, yakni pelestarian lingkungan.

"Setiap hotel, restoran, dan vila di pulau ini menggunakan air yang pada awalnya berasal dari curah hujan yang ditampung oleh kawasan lereng seperti Batukaru. Sehingga industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap kemampuan kawasan tangkapan air ini untuk tetap berfungsi," tegasnya.