Namun kondisi Syaif kemudian semakin memburuk. Sesampainya di rumah, Setyo mendapati dari hidung dan mulut anaknya keluar busa. Syaif juga sudah tidak sadar dan tidak merespons saat ditepuk.

"Dari mulut hidung sudah ngeluarin busa. Terus dari mata mengeluarkan darah, bukan nangis. Kondisi anak saya sudah tidak sadar. Saya tepuk sudah tidak respons," ungkapnya.

Saat hendak dipakaikan pakaian untuk dibawa ke rumah sakit, keluarga baru menemukan sejumlah luka pada tubuh Syaif. Istri Setyo melihat adanya lebam pada lengan korban.

Saat kepala Syaif diraba, ditemukan benjolan di bagian depan kepala. Setyo kemudian memeriksa rambut anaknya dan menemukan darah yang sudah mengering di bagian ubun-ubun.

"Begitu istri saya mengusap kepala bagian depan ada benjolan. Saya periksa lagi rambutnya ada darah kering, pas ubun-ubun. Saya setelah itu cuma nangis, nggak tega," ujarnya.

Syaif kemudian dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 09.30 WIB. Berdasarkan informasi dari dokter, korban kemungkinan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Sebelum membawa anaknya ke rumah sakit, Setyo mengaku sempat berusaha mencari informasi dari teman-teman Syaif. Namun menurutnya, sejumlah teman anaknya tidak memberikan keterangan yang sebenarnya.

Setelah Syaif meninggal dan dimakamkan, barulah salah seorang temannya memberikan informasi mengenai kejadian yang dialami korban.

Menurut keterangan yang diterima Setyo, Syaif sempat dibonceng temannya saat perjalanan pulang. Namun di tengah perjalanan, Syaif disebut kemudian diminta mengendarai sepeda motor karena temannya mengaku kedinginan.

Saat melintas di kawasan Berkoh, tepatnya sekitar bundaran air mancur, Syaif disebut mengalami pemukulan oleh seseorang yang belum diketahui identitasnya.

"Intinya katanya di situ digebukin entah oleh siapa. Setelah dipukul itu anak saya masih bisa mengendarai sepeda motor sampai rumah," kata Setyo.