"Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya."
Sekali peristiwa Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
Tetapi, Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia, katanya, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau!"
Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, "Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau memikirkan bukan yang dipikirkan Allah, melainkan yang dipikirkan manusia,"
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi, barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Apa gunanya bagi seseorang jika ia memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikan sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya. Pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang setimpal dengan perbuatannya."
Beberapa kesempatan lalu di Indonesia, kita mungkin melihat atau mendengar berita medsos tentang orang yang berjuang membela kebenaran justru disalahpahami dan diserang. Peristiwa seperti ini menyadarkan bahwa melakukan yang benar tidak selalu nyaman"ada "salib" yang harus dipikul.
Dalam Injil Matius 16:21-27, Yesus mulai menyatakan bahwa Ia harus menderita dan wafat. Ketika Petrus menolak, Yesus menegaskan bahwa jalan Allah berbeda dari keinginan manusia.
Mengikut Yesus berarti siap menyangkal diri, bukan mencari aman. Salib bukan hukuman, tetapi tanda kesetiaan pada kehendak Allah, ajaran Yesus (Injil). Hari ini, kita diajak berani memilih kebenaran Injili, walau berat.