Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.
Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.
Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh
dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.
Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.
Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan segala kotoran. (Mat. 23:27)
Modernisasi dan media sosial berpengaruh pada cara pandang akan kejujuran dan autentisitas. Menjadi pribadi autentik yang apa adanya, tulus, jujur, tanpa topeng, dan kepura-puraan, semakin tergerus dan terpinggirkan.
Sementara itu, kebohongan, kepalsuan, kemunafikan sering dirasionalisasikan dan bahkan dibenarkan.
Yesus secara konsisten mengecam keras kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena kemunafikan mereka. Hidup mereka penuh kepalsuan.
Hidup, perkataan, dan tindakan tidak selaras dengan apa yang ada dalam hati mereka. Mereka mengetahui kebenaran firman Tuhan, tetapi tidak melakukannya, bahkan perbuatan mereka menyimpang dari apa yang mereka ajarkan kepada orang lain.