NADIKABAR.COM — Menjadi seorang manusia dewasa bukanlah hal yang mudah, adalah menjadi kewajiban manusia dewasa bekerja, mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan hidup di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah saat ini. Sayangnya di tengah kesibukan dan tugas manusia dewasa yang penuh dengan target pekerjaan, kritik atasan, bekerja sama dengan rekan kerja yang mungkin menimbulkan konflik, akan membuat diri merasa lelah, menyalahkan diri sendiri akan kegagalan, dan akhirnya timbul kondisi stress.

Yang paling berbahaya adalah tidak tahu bagaimana merespon kondisi stress dan cara menemani diri dengan baik. Diri sendiri adalah entiti yang paling bertanggung jawab terhadap rasa sejahtera yang sejatinya adalah kebutuhan setiap manusia.

Kristin Neff, seorang penemu self-compassion telah memberikan pencerahan mengenai berbuat baik pada diri sendiri. Menurut Neff, self-compassion atau welas asih menjadikan seseorang memiliki perasaan tersentuh dan terbuka terhadap penderitaan sendiri, bukan menghindari atau menjauhinya, serta membangkitkan keinginan untuk meringankan penderitaan dan menyembuhkan diri sendiri dengan kebaikan.

Sebuah penelitian menarik telah dilakukan oleh Gunay, Unver, Yilmaz tahun 2026 pada 429 orang, mengenai pengaruh welas asih pada karyawan yang mengalami stres kerja dan burnout. Welas asih ditemukan berperan dalam hubungan tim redaksi stres kerja dan burnout.

Temuan ini telah membuktikan bahwa self-compassion dapat menjadi salah satu sumber daya bagi seseorang untuk dapat menghadapi tekanan pekerjaan yang dialami sehari-hari. Welas asih terdiri dari tiga komponen yaitu self-kindness, common humanity dan mindfulness.

Dalam self kindness, individu memberikan kebaikan dan pengertian kepada diri sendiri daripada menghakimi dan mengkritik diri sendiri dengan keras. Self-kindness tidak hanya sebatas mengakhiri perilaku kritik terhadap diri sendiri, namun melibatkan keterbukaan emosional ketika hidup terasa melelahkan dan sulit.

Pada kondisi ini, individu mempersepsikan pengalamannya sebagai bagian dari pengalaman manusia yang lebih besar, alih-alih melihatnya sebagai sesuatu yang memisahkan dan mengisolasi.

Common humanity dapat membantu individu untuk merasa terhubung dengan individu lain. Common humanity juga membantu individu untuk membedakan welas diri dengan self-pity.

Pada mindfulness, individu menghayati pikiran dan perasaan menyakitkan dengan kesadaran yang seimbang, alih-alih terlalu mengidentifikasi diri dengan hal-hal tersebut. Mindfulness diartikan sebagai kesadaran seimbang, di mana individu tidak menghindari maupun melebihkan ketidaknyamanan yang dirasakan diri sendiri.

Melakukan Self-compassion sebagai salah satu keterampilan untuk dapat berbuat baik pada diri sendiri ketika sedang mengalami kegagalan, kesulitan, kelelahan, atau merasa tidak cukup baik. Welas asih bukan suatu keadaan di mana kita memanjakan diri, menghindari tanggung jawab, atau membenarkan semua kesalahan.