Pada waktunya, modal-modal itu dapat dikonversi menjadi kedudukan dan penghidupan. Itulah mekanisme naik kelas yang senyap.
Al-Qur'an memberi dasar yang lebih tua untuk mekanisme itu. QS al-Mujadilah ayat 11 menegaskan yarfa'illahul-ladzina amanu minkum wal-ladzina utul-'ilma darajat, Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa derajat. Al-Qurthubi dalam al-Jami' li Ahkam al-Qur'an memaknai derajat itu sebagai fi ats-tsawab fil-akhirah wa fil-karamah fid-dunya, pahala di akhirat sekaligus kemuliaan di dunia.
Iman mengangkat lebih dulu, lalu ilmu menyusul. Ilmu, dengan kata lain, adalah pengangkat derajat yang tidak menanyakan asal-usul.
Mimpi itu kini terhimpit dari tiga arah. Himpitan pertama datang dari narasi yang terdengar paling baik. Pada hari yang sama, Cak Imin mendorong agar lulusan pesantren harus siap kerja. Dorongan itu wajar, bahkan perlu, bagi anak-anak dari keluarga yang menunggu tambahan penghasilan.
Namun ekonom Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999) mengingatkan bahwa pembangunan adalah "a process of expanding the real freedoms that people enjoy", proses memperluas kebebasan nyata seseorang.
Siap kerja menjadikan santri tenaga yang terserap. Pendekatan kapabilitas menjadikan santri mampu memilih menjadi apa saja: ulama, peneliti, dokter, atau pengusaha. Bahayanya halus tetapi nyata. Anak miskin diarahkan ke "kerja", anak berada diarahkan ke "ilmu", dan pesantren pelan-pelan kehilangan tafaqquh fid-din yang menjadi jantungnya.
Skema KPR khusus ustaz dan guru pesantren yang disiapkan Kemenag patut diapresiasi, sebab mutu pendidikan pesantren ditentukan oleh kesejahteraan para pengajarnya. Tetapi santri desil bawah membutuhkan lebih dari itu: kebijakan berbasis hak dan data yang padu, bukan sekadar kucuran CSR dan seremoni tahunan.
Himpitan kedua berupa prasangka. Isu "UI prioritaskan santri" cepat menyebar karena menyentuh anggapan yang diam-diam dipercaya banyak orang: anak pondok mustahil menembus kampus elite tanpa belas kasihan. Meritokrasi yang langsung curiga pada anak dari bawah adalah meritokrasi yang timpang.