"Novel itu kakak kandungnya cerita pendek. Saya kelas lima SD sudah bisa membuat cerita pendek dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia," tuturnya.
Menulis novel menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi SBY karena memberinya kebebasan penuh secara kreatif. Ia bisa leluasa membangun alur, membayangkan adegan, serta menghadirkan tokoh dengan beragam karakter berbeda.
"Saya merasa punya kebebasan untuk menggambarkan apa saja," kata SBY.
Kebebasan berimajinasi itu berjalan selaras dengan ketekunannya dalam melakukan riset mendalam. Saat menyusun cerita Diana Memang Manja, SBY mencermati latar waktu dan hubungan antarkeadaan agar keseluruhan kisahnya tetap masuk akal.