Ia mengingatkan bahwa lapisan inversi dapat memiliki cakupan wilayah yang luas serta tingkat kestabilan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, gangguan suhu pada suatu lokasi belum tentu cukup untuk mengubah kondisi atmosfer secara keseluruhan.
Menurutnya, keberhasilan metode dry ice ini tak bisa disimpulkan hanya berdasarkan perkiraan mekanisme pendinginan, melainkan harus dibuktikan melalui pengamatan dan analisis data atmosfer.
Untuk mendukung operasi tersebut, BRIN dapat melakukan analisis berdasarkan data pengamatan atmosfer yang dikumpulkan oleh instansi pelaksana operasi dan BMKG. Data itu mencakup profil suhu udara secara vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta parameter kestabilan atmosfer.
Pengukuran dapat memanfaatkan data radiosonde, yakni instrumen pengamatan atmosfer yang memberikan informasi mengenai kondisi suhu, kelembapan, dan parameter meteorologi pada berbagai ketinggian.
Tidak hanya itu, data pengamatan suhu selama penerbangan juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi lapisan tempat terjadinya inversi serta memperkirakan ketebalannya. Pengamatan sebelum, selama, dan sesudah penyemaian perlu dilakukan secara sistematis sehingga setiap perubahan kondisi udara dapat didokumentasikan dan dibandingkan.
Ia menekankan bahwa pendekatan tersebut penting karena efektivitas suatu teknologi modifikasi cuaca sangat dipengaruhi kondisi atmosfer pada saat operasi dilaksanakan.