Mantan kepala sekolah dan Kepala Program Media di organisasi nirlaba Common Sense Media, Yvette Renteria menambahkan, larangan AI generatif ini juga penting untuk menekan besarnya risiko pengunaan AI oleh siswa.

Yvette menjelaskan, berdasarkan studi Commons Sense Media berjudul A Comprehensive Report on Teens, Tweens, and AI (2026) dan Teens in the AI Era: Schoolwork and Skills That Matter (2026), AI menjadi bagian kehidupan anak praremaja dan remaja AS. Ketika dilarang di sekolah, mereka tetap menggunakannya di perangkat pribadi.

"Banyak pekerjaan yang harus dilakukan sepanjang tahun ini, termasuk mengajarkan literasi AI, yang tidak mengharuskan anak-anak untuk menggunakan AI itu sendiri," terangnya.

"Banyak produk AI terkemuka tidak dirancang untuk keamanan atau untuk mendukung pembelajaran dengan benar," imbuh Renteria.

Namun, pakar teknologi pendidikan dan profesor University of Syracuse, Jing Lei mengatakan, larangan atau izin menggunakan teknologi tidak cukup. Sekolah menurutnya tetap harus memastikan kualitas penggunaan AI generatif.

Ia mencontohkan, larangan menggunakan teknologi justru dapat menghalangi anak kecil belajar dari peluang pendidikan bermakna yang ditawarkan dengan akses teknologi. Sisi lain, akses ke teknologi selama 20 menit saja pun bisa tergolong terlalu lama bagi siswa kelas tinggi, jika tidak ada tujuan yang jelas.