"Di sound (horeg) ini tidak begitu efektif, dan signifikan untuk menambah pundi-pundi rejeki saya. Saya lebih ke hobi, dan senang kumpul dengan saudara-saudara," ujar Budi.
Dia menyakini, rejeki itu bisa didapat dengan usaha yang lain, tidak hanya dari dunia sound horek saja. Budi bahkan mengaku siap membantu acara-acara yang sifatnya positif, seperti pengajian.
"Kalau ada yang menghendaki, Mas Budi soundnya untuk pengajian di Alun-alun Solo, atau Alun-alun Karanganyar, saya berangkatkan. Untuk kemaslahatan kita berangkatkan. Bagi saya untuk sodakoh," ucapnya.
Dihubungi terpisah, Ketua MUI Karanganyar, KH Badaruddin, mengatakan sudah memaafkan pernyataan Budi terkait MUI Jatim tersebut. Ia menyebut, Budi telah mengakui kesalahannya.
"Saya sebagai orang Islam memaafkan. Dengan meminta maaf kepada MUI Jatim, MUI Jateng, dan (MUI) Indonesia termasuk (MUI) Karanganyar, sudah saya maafkan. Jangan sampai itu terulang kembali," kata Badaruddin, saat dihubungi awak media.
Dia mengatakan, permasalahan sound horeg adalah membuat masyarakat tidak tenang. Sebab, akan melanggar norma susila dan norma keagamaan. Ia tak mempersoalkan jika sound horeg digunakan untuk kegiatan yang positif, seperti pengajian.
"Kalau sound horeg digunakan untuk pengajian, yang positif, silakan. Tapi untuk nyanyi-nyanyi itu akibatnya ada membuka aurat, kemudian tidak sopan, menimbulkan miras, itu datanya ada, sehingga mestinya berhenti," ucapnya.
Ke depannya, MUI akan terus memantau konser sound horeg. Sebab, MUI tak ingin adanya dampak negatif dari aktivitas sound horeg tersebut.