Dari sisi kinerja usaha, SGER membukukan pendapatan Rp4,32 triliun hingga semester II 2026, tumbuh 6,73 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Rp4,05 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan tersebut terutama berasal dari segmen batu bara sebesar Rp3,16 triliun, disusul pendapatan dari pasir dan kapur senilai Rp495,16 miliar, pendapatan kokas minyak bumi senilai Rp379 miliar, serta pendapatan nikel senilai Rp284,29 miliar.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, perseroan mencatatkan laba bersih Rp137,95 miliar, meningkat 8,83 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain memperkuat bisnis yang sudah berjalan, SGER juga berupaya memperluas sumber pendapatan melalui diversifikasi usaha di luar perdagangan batu bara.
Michael mengatakan, melalui anak usahanya, PT Hidrogen Peroxida Indonesia (HPI), perseroan telah membangun pabrik hidrogen peroksida di Merak, Banten. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi 20.000 metrik ton per tahun pada konsentrasi 100 persen atau 40.000 metrik ton per tahun pada konsentrasi 50 persen.