NADIKABAR.COM — Shalat merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang dilakukan lima kali sehari. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, shalat juga dapat menjadi momen untuk menenangkan diri di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan sehari-hari.

Ketika menjalankan shalat, seseorang tidak hanya melakukan gerakan tubuh, tetapi juga membaca ayat Al Quran, berdoa, dan memusatkan perhatian pada ibadah. Bagi sebagian orang, rutinitas ini memberikan ketenangan sekaligus ruang untuk sejenak menjauh dari berbagai persoalan.

Lantas, benarkah shalat bisa memberikan dampak positif bagi kesehatan mental? Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara praktik shalat, perhatian penuh saat beribadah, dan kesejahteraan psikologis. Meski demikian, manfaatnya dapat berbeda pada setiap orang dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Stres merupakan respons alami ketika seseorang menghadapi tekanan, tuntutan pekerjaan, masalah keluarga, atau persoalan lainnya. Namun, stres yang berlangsung terus-menerus dapat mempengaruhi kondisi emosional, konsentrasi, hingga kualitas tidur.

Bagi umat Islam, shalat dapat menjadi waktu untuk berhenti sejenak dari aktivitas harian, berdoa, dan memusatkan perhatian pada ibadah. Rutinitas tersebut berpotensi membantu seseorang merasa lebih tenang ketika menghadapi tekanan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa teknik relaksasi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membantu mengelola stres dan kecemasan. Dalam konteks shalat, unsur ketenangan dan pemusatan perhatian mungkin memberikan pengalaman serupa bagi sebagian orang, meskipun keduanya tidak sepenuhnya sama.

2. Membantu menjaga kestabilan emosi