"ACGME budayanya beda dengan Indonesia, yang bisa dibujuk-bujuk, dikasih hadiah, oleh-oleh, atau bingkisan supaya kita lulus akreditasi. Mereka nggak begitu," tegas Menkes.
"Harus dilihat siap atau nggak, dosennya siapa, mendidiknya bener atau nggak, yang mendidik chief-nya atau dosennya, itu yang akan mereka lihat," tambahnya.
Selain itu, Menkes Budi menggarisbawahi pentingnya meluruskan peran pengajar di lingkungan PPDS, yang selama ini kerap diserahkan kepada senior atau kakak tingkat akibat keterbatasan tenaga pengajar.
Praktik tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu interaksi tidak seimbang di tim redaksi peserta didik.
"Kita di Indonesia yang ngajar itu bukan dosennya, pak, yang ngajar adalah kakak kelas. Makanya terjadi bullying-bullying itu," ungkap Menkes.