Masalah mulai muncul ketika guru olahraga di sekolah tersebut, menyadari ada bekas luka dan lebam di tubuh Elia. Selain itu, sopir bus sekaligus konselor sekolah, Frida, juga mendengar pembicaraan Elia dan Emmanuel soal hukuman fisik dari ibu mereka.

Atas informasi tersebut, keduanya kemudian mengadukan kepada Mats selaku kepala sekolah dan Child Welfare Services dengan dugaan tindakan kekerasan terhadap anak-anak di keluarga Gheorghiu.

Gunda dari Child Welfare Services pun datang menemui keluarga Gheorghiu. Kala itu, mereka disambut oleh Lisbet. Lisbet kaget dengan tuduhan tersebut. Apalagi, di tempat terpisah, Mihai juga diinterogasi oleh polisi dengan dugaan yang sama.

Aturan yang tegas dan ketat terkait kesejahteraan anak di Norwegia serta kekuasaan nyaris absolut dari Child Welfare Services membuat Mihai dan Lisbet harus menelan pil pahit: anak-anak mereka diambil oleh negara tanpa persetujuan mereka.

Sejak itulah, Lisbet dan Mihai berjuang untuk kembali mendapatkan anak-anak mereka di tengah diskriminasi yang diterima keluarga itu gegara perbedaan nilai dan budaya dengan masyarakat juga hukum Norwegia.