Ia menyebut perubahan tersebut antara lain terlihat pada lelang spektrum terbaru yang menggunakan harga relatif terjangkau. Kebijakan itu dinilai memberi kesempatan bagi operator untuk melanjutkan investasi pengembangan jaringan.

"Menurut saya, sekarang seluruh operator memiliki ruang yang cukup untuk membangun jaringan 5G," katanya.

Ismail menjelaskan ketersediaan infrastruktur telekomunikasi merupakan prasyarat bagi transformasi digital. Konektivitas yang memadai perlu tersedia sebelum masyarakat dapat menggunakan berbagai layanan digital secara produktif.

"Lebih dari 98 persen wilayah Indonesia telah terhubung dengan jaringan 4G. Perkembangan 5G juga berlangsung sangat cepat. Karena itu, persoalan spektrum frekuensi menjadi sangat penting," tuturnya.