"Yang ikut nyetor di bank sampah kami itu sudah di luar Pondok Pinang, sudah ada ke Lebak Bulus dan Cinere sekalipun, selain juga RW-RW lain yang masih belum memiliki bank sampah sendiri," kata Talitha.
Talitha mengatakan, wilayah tempat bank sampahnya beroperasi terdiri dari masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas dan banyak yang merupakan kelompok lansia.
Karakteristik tersebut menimbulkan tantangan tersendiri. Misalnya, masyarakat yang sebenarnya mau mengelola dan memilah sampah, tetapi tidak mengetahui harus memulai dari mana.
"Mereka juga enggak merasa mampu karena mereka merasa, "Kan saya sudah bayar kayak semacam uang bulanan, dikelolalah sama RT dan RW." Di sini kita meng-empower mereka, coba meningkatkan kapasitas dari arah kita kasihkan dengan playbook, petunjuk," tambahnya.
Ajakan berupa pemberian insentif ekonomi juga menurut Talitha tidak terlalu berpengaruh di lingkungannya. Talitha lebih memilih untuk melihat motivasi intrinsik warga, yakni memilah sampah karena mengetahui bahwa hal tersebut memang sepatutnya dilakukan.
Talitha pun menekankan pentingnya pendekatan empati dan edukasi kepada masyarakat. Edukasi secara masif dan berlapis, yang bahkan menjangkau tingkat asisten rumah tangga (ART) dan supir warga, juga dilakukan.
"Selama antusias dan pengin datang, kita tetap menyambut baik. Lalu ada juga yang misalnya mengatakan, "Saya bisa ikut tapi cuma bisa ikutnya bank sampah aja, yang organik nggak bisa." Kita tetap terbuka, jadi kita pendekatannya tetap empati," kata Talitha.