Selain makanan, kondisi lingkungan juga menjadi faktor yang membuat kelabang betah. Kelabang cenderung menyukai tempat yang lembap, seperti kamar mandi, dapur, hingga ruang bawah tanah. Area semacam itu biasanya memiliki kadar kelembapan lebih tinggi dibandingkan ruangan lain.
Pembasmi hama berlisensi, Allan Bossel, menjelaskan bahwa kelabang tertarik pada ruangan lembap karena tempat tersebut kerap menjadi lokasi persembunyian mangsanya.
Bukan hanya lembap, kelabang juga menyukai tempat yang minim cahaya. Entomolog Kris Bagnara mengatakan kelabang merupakan hewan nokturnal yang lebih aktif pada malam hari. Hewan ini juga sensitif terhadap cahaya sehingga area gelap dapat menjadi tempat yang lebih nyaman baginya.
Tak heran jika kelabang terkadang ditemukan di sudut rumah yang jarang terkena cahaya atau di area yang jarang dibersihkan.
Kondisi di luar rumah juga dapat menjadi pemicu kelabang masuk ke dalam. Hujan badai, misalnya, dapat mengubah kondisi lingkungan tempat kelabang biasanya berada. Begitu pula dengan cuaca yang terlalu panas.
Ketika kondisi di luar menjadi kurang mendukung, kelabang dapat mencari tempat perlindungan yang lebih aman. Rumah kemudian menjadi salah satu lokasi yang mungkin dituju.
Itulah sebabnya kelabang terkadang muncul setelah hujan atau ketika cuaca sedang sangat panas. Kemunculannya tidak selalu berarti rumah dalam kondisi kotor.