NADIKABAR.COM — Tiga perempuan di bawah umur di Kota Mataram menjadi korban kejahatan child grooming (manipulasi orang dewasa kepada anak-anak untuk dieksploitasi secara seksual), hingga berujung pada eksploitasi seksual secara daring. Ketiga korban masih berusia tim redaksi 12 tahun hingga 14 tahun.

"Kasus itu dimulai dari mereka melakukan grooming ke anak-anak. Mereka ini anak-anak SD-SMP kelas satu. Mereka di-grooming, dipengaruhi, dan dimanipulasi sehingga korban mau mengirimkan foto PAP," kata Ketua LPA Kota Mataram, Joko Jumadi, saat diwawancarai Kamis (3/9/2026).

Joko mengungkapkan setelah ketiga korban mengirimkan foto PAP milik korban, pelaku memanfaatkannya sebagai alat intimidasi. Pelaku mengancam akan menyebarkan foto tersebut apabila korban tidak mau menuruti permintaan lainnya, yang jauh lebih ekstrem.

"Anak-anak ini diancam, disebarkan fotonya, kalau tidak mau menuruti permintaan pelaku. Salah satunya (permintaannya) rutin mengirimkan video telanjang hingga diajak video call sex (VCS)," ungkap Joko.

Ketika sesi VCS berlangsung, pelaku sengaja menyembunyikan identitasnya. Wajah pelaku tidak pernah dimunculkan di layar, ketika VCS berlangsung, tetapi pelaku malah merekam gambar para korban.

"Kemungkinan besar (video anak-anak ini) dijual di website-website pronografi," ucapnya.

Joko menuturkan aksi bejat pelaku tidak berhenti pada pengancaman. Jika korban menolak perintah pelaku, pelaku akan menyebarkan foto hingga rekaman video tersebut kepada lingkaran terdekat korban. Mulai dari teman, tetangga hingga para guru dari ketiga korban tersebut.

"Luar biasanya, pelaku bisa mendapatkan nomor-nomor teman korban, tetangga, hingga guru-gurunya. Bagi guru atau teman yang tidak menanggapi ancaman tersebut, mereka akan dikirimi video dan terus diteror lewat telepon dari berbagai nomor yang berbeda-beda," terang Joko.

Joko berujar, pihaknya telah berkoordinasi dengan Polda NTB. Dan diduga kuat aksi kejahatan tersebut dioperasikan oleh sindikat profesional lintas daerah. Dari hasil penelusuran, lokasi sinyal pelaku terindikasi berada di luar NTB.

"Ketika kami kroscek, orang-orang yang meneror itu bukan dari Mataram. Kemungkinan sindikat profesional. Posisinya, sementara terindikasi ada di Sumatera," tegasnya.

Di sisi lain, Joko berujar, dari tiga korban yang didampingi LPA, satu kasus telah berhasil dihentikan aktivitas terornya. Sementara dua kasus lainnya masih berlanjut, dan telah resmi dilaporkan ke pihak kepolisian.

"Yang satu case memang sudah bisa kita hentikan. Tapi yang dua case ini, sempat berhenti Maret lalu. Tapi sekarang muncul lagi. Apalagi korban yang tadinya SD, sekarang sudah naik ke SMP, dan teman-teman barunya juga ikut diteror. Dua kasus ini sudah kita laporkan ke Polda," bebernya.

Dalam kasus ini, Joko mengingatkan para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak. "Modus pemicu grooming ini umumnya diawali dari interaksi di media sosial umum, lalu berpindah ke grup Telegram, hingga berlanjut ke komunikasi pribadi melalui WhatsApp," tandasnya.