NADIKABAR.COM — Operasional Bus Trans Banyumas disetop sementara akibat proses peralihan pendanaan darp APBN ke APBD. Imbasnya ratusan pekerjanya terancam tak gajian.

Direktur Utama PT Banyumas Raya Transportasi, Ipoeng Marta Marsikun, mengatakan ada sekitar 220 orang yang terlibat dalam operasional Trans Banyumas. Mereka terdiri dari 115 sopir serta pekerja di bagian operasional, administrasi hingga manajemen.

"Kalau driver total itu ada 115 orang kemudian ada operasional administrasi, kemudian ada manajemen, pengelola yang dari PT Surveyor Indonesia totalnya sekitar 220 orang yang langsung terlibat dalam operasional tersebut," kata Ipoeng saat dihubungi wartawan, Selasa (1/9/2026).

Menurut Ipoeng, seluruh pekerja tersebut berstatus Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Secara aturan, ketika kontrak berakhir, pekerja tidak lagi mendapatkan penghasilan. Namun, pihaknya masih mengupayakan agar para pekerja tetap beraktivitas dan menerima gaji selama masa penghentian operasional yang diperkirakan hanya berlangsung sementara.

"Kalau sesuai dengan PKWT, memang ketika kontrak berakhir tidak mendapatkan penghasilan. Tapi karena kami memperkirakan ini tidak lama, sekitar dua mingguan, saya perintahkan ke HRD untuk tetap masuk," terangnya.

Selama bus belum kembali melayani penumpang, para pekerja akan diminta melakukan sejumlah pekerjaan persiapan. Salah satunya menjalani uji KIR seluruh armada yang masa berlakunya bertepatan dengan bulan ini.

Selain itu, pekerja juga akan melakukan perawatan ringan terhadap armada, seperti memperbaiki kerusakan kecil dan mengecat bagian bus yang catnya mulai terkelupas. Sementara perbaikan kerusakan besar akan ditangani mekanik.

"Jadi sambil menunggu operasional lagi, semua bus dilakukan uji KIR dulu semuanya. Mereka tetap bekerja, memperbaiki kerusakan yang kecil, kemudian ngecat yang terkelupas catnya dan melakukan pengujian KIR," ujarnya.