Dengan kata lain, istilah cloud computing sebenarnya agak menipu. Data memang terasa seperti berada 'di awan', tetapi AI bekerja di gedung-gedung nyata yang dipenuhi mesin. Dan mesin-mesin tersebut membutuhkan energi.
Pertumbuhan generative AI membuat konsumsi energi pusat data menjadi perhatian di berbagai negara. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data secara global akan meningkat tajam hingga 2030, dengan AI menjadi salah satu pendorong pertumbuhan kebutuhan komputasi.
Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata tren foto 80-an. Foto retro yang dibuat dengan AI hanyalah contoh kecil dari perubahan cara manusia menggunakan komputasi. Sekarang sedang tren foto, besok mungkin video, di kemudian hari mungkin konten 3D atau simulasi yang jauh lebih kompleks.
Lalu apakah sebaiknya kita berhenti membuat foto AI? Jawabannya juga tidak sesederhana itu. Membuat satu atau beberapa foto AI tentu tidak bisa dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan.
Persoalannya ada pada akumulasi penggunaan dalam skala besar dan bagaimana industri AI mengelola kebutuhan sumber dayanya. Model AI yang lebih efisien dapat mengurangi kebutuhan komputasi. Pusat data yang menggunakan energi rendah karbon juga dapat menekan emisi. Teknologi pendinginan yang lebih hemat air dan penggunaan air daur ulang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.
Karena itu, tanggung jawab bukan hanya berada pada pengguna yang membuat gambar. Perusahaan teknologi juga punya peran besar dalam membuat model, chip, pusat data dan sistem pendingin yang lebih efisien.
Artikel ini telah tayang di NadiKabar. Baca selengkapnya di sini.