Menurutnya, tradisi mengarak pengantin pria memang sudah menjadi bagian dari adat istiadat warga setempat. Namun biasanya, sarana yang digunakan adalah gerobak atau kuda hias, bukan alat berat industri seperti yang ia alami.

"Jadi kalau ide kreatif itu kan saya enggak tahu ya. Karena itu ide dari teman-teman yang ada di wilayah saya. Saya tidak tahu-menahu kalau mau ada hal-hal seperti itu. Biasanya kan itu adat istiadat di daerah sini kalau ada pemuda yang menikah pakai arak-arakan seperti itu. Tapi beda-beda, ada yang pakai gerobak. Nah ini pakai forklift yang suka naik-turun barang tuh. Kebetulan di sini kan ada perusahaan mebel dan kayu di daerah saya. Mungkin teman-teman pada berembuk, minta bantuan atau apa, tiba-tiba kayak gitu," tutur Maman, Senin (31/8/2026).

Maman memaparkan perasaan campur aduk menghinggapi batinnya saat bertengger di atas forklift hias yang berjalan pelan membelah gang-gang desa sepanjang hampir satu kilometer tersebut. Rasa malu, tegang, dan haru menyatu menjadi satu pengalaman yang tak bakal dilupakan seumur hidupnya.

"Gimana ya campur aduk. Kayak malu ada, tegang ada, jadi segala macam lah campur aduk. Terharu juga ada. Terharunya itu banyak orang yang merespons ke pernikahan saya gitu. Malunya ya gitu, banyak orang-orang yang ngeliatin saya. Satu desa ngeliatin saya semua, jadi gimana gitu. Itu kan perjalanan sebelum akad dari rumah saya menuju mempelai wanita, jaraknya sekitar 700 meteran lah," tutur Maman.