Bocah-bocah itu sudah terbiasa menempuh perjalanan ke sekolah menggunakan rakit sejak beberapa tahun belakangan. Alasannya tentu jarak dan waktu tempuh yang lebih singkat ketimbang harus berjalan kaki memutar kampung.

"Sudah lama, kalau anak-anak ini ya mungkin sejak mereka kelas 1 SD. Kebetulan saya dan beberapa warga bertugas mengantar mereka secara bergantian. Mengantar dan menjemput juga," kata Agus.

Mereka berharap pemerintah mau menengok kondisi mereka yang teramat membutuhkan akses alternatif berbentuk jembatan, baik jembatan gantung maupun jembatan permanen di atas aliran Waduk Saguling, Sungai Citarum.