Penjaringan terjadi sejak jenjang SMP. Menurut Stella, hanya sekitar 50 persen murid SMP yang bisa masuk ke SMA umum yang khusus untuk berkuliah, sisanya masuk SMK.

"Dan semuanya ingin ke perguruan tinggi. Nanti dari SMA saringannya lebih ini (ketat) lagi," beber Stella.

Melihat hal ini, ia menilai China lebih mengutamakan kualitas dan keterjangkauan. Tapi, mereka membatasi kuantitas atau dalam hal ini jumlah mahasiswanya.

"Jadi kualitas dijaga dan keterjangkauannya dijaga, bukan di tengah-tengah. Tapi kuantitasnya dibatasi," sambungnya.

Berkaca dari China, Stella menyatakan pada dasarnya setiap perguruan tinggi negeri (PTN) bisa menentukan strategi untuk bisa berhasil. Strategi yang dimaksud apakah ingin mengutamakan kualitas, keterjangkauan, atau kuantitasnya.

"Sebagai pemimpin pada saat ini letak perguruan tinggi Bapak-Ibu ini di mana di segitiga ini? Lebih ke kuantitas dan keterjangkauan kah? Sehingga strategi arahnya itu mau menyeimbangkan kualitasnya? Atau Bapak-Ibu sudah di kualitas dan keterjangkauan tetapi mengorbankan kuantitas?," tanya Stella.