"Tahukah kamu pendusta agama? mereka yang bermain dengan nasib orang miskin. Mereka yang tidak profesional dalam mengelola Sekolah Rakyat (berarti) itulah pendusta agama. Sehingga anda sekarang mau lompat ke neraka atau ke surga semua tergantung bagaimana memposisikan niat di Sekolah Rakyat," paparnya.
Ia juga menyampaikan tiga prinsip pendidikan yang perlu diterapkan para pendamping, yakni membangun karakter, menciptakan kompetisi positif melalui berbagai kegiatan, serta memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Di samping pembentukan karakter, Habib Ja'far menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan. Menurutnya, perundungan dan pelecehan tidak boleh mendapat toleransi di lingkungan pendidikan.
"Sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak pernah memberikan toleransi terhadap bullying, pelecehan dan terhadap segala hal-hal buruk yang tidak seharusnya ada di sekolah. Itu kuncinya," kata dia.
Sementara itu, Agus Jabo meminta seluruh pendamping menerapkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara melalui prinsip momong, among, dan ngemong.
"Momong itu mengasuh dengan kasih sayang. Among mendidik melalui keteladanan. Ngemong membimbing dan mengembangkan potensi anak," tuturnya.
Ia menjelaskan Sekolah Rakyat tidak hanya menyelenggarakan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan karakter dan rehabilitasi sosial. Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025.
Menurut Agus Jabo, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang menghadapi berbagai keterbatasan. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga dapat meninggalkan persoalan sosial, seperti kurangnya perhatian dan kasih sayang, rasa rendah diri, hingga hilangnya harapan.