Kondisi stres berkepanjangan ini mendorong pelepasan hormon stres (seperti kortisol dan norepinefrin) secara terus-menerus. Pelepasan hormon ini merangsang pelepasan sitokin pro-inflamasi, yang memicu inflamasi kronis tingkat rendah (chronic low-grade inflammation) di dalam tubuh.
Peradangan kronis inilah yang kemudian merusak DNA sel, menurunkan sistem pengawasan imun (immunosurveillance), serta mengubah mikrolingkungan jaringan tubuh menjadi kondisi ideal bagi sel mutasi untuk berkembang berkembang menjadi tumor atau kanker.
Lim menerangkan bahwa ketika seseorang menemukan perubahan atau benjolan pada payudaranya, hal itu wajar jika memicu kekhawatiran. Namun, benjolan tersebut merupakan temuan fisik dan bukan diagnosis pasti kanker. Sebagian besar benjolan bersifat jinak, seperti kista, fibroadenoma, atau perubahan fibrokistik.