"Cara kerja rompi pintar ini memanfaatkan sensor detak jantung dan gerakan yang terintegrasi dengan teknologi machine learning dan Internet of Things (IoT). Saat tantrum terdeteksi, rompi akan mengembang dan memberikan tekanan pada tubuh anak sehingga menimbulkan sensasi seperti pelukan. Rompi kemudian kembali ke bentuk semula setelah kondisi anak terdeteksi stabil," tulis Gibran dalam unggahannya.
Ada lima mahasiswa UB di balik rompi pintar ini. ADAPT-V merupakan sebuah teknologi wearable berbasis Deep Pressure Therapy (DPT).
"Jadi ADAPT-V ini meripakan rompi pintar berbasis lift pressure therapy yang terintegrasi dengan machine learning dan IoT untuk mengurangi respons tantrum pada penyandang autism spectrum disorder Pak, atau yang sering kita kenal sebagai autisme," jelas salah satu mahasiswa UB yang diundang oleh Wapres.