"Akibat kekeringan, warga, sekolah-sekolah dan rumah-rumah ibadah di Saptanajaya dan Tammarunang harus merogoh kocek sebesar Rp 150-500 ribu untuk mengisi tandon air mereka beberapa hari terakhir, termasuk di Desa Bulumario," kata legislator NasDem itu.
Bahkan ada satu pondok pesantren (ponpes) di Duripoku yang terpaksa meliburkan santrinya karena sudah tidak mampu membeli air setiap hari. Selain itu, pengurus rumah ibadah juga kerap kesulitan mendapatkan air bersih.
"Bahkan Ponpes Nurul Jadid Duripoku sudah meliburkan santrinya karena tidak mampu membelikan air setiap hari," ungkapnya.
Robin menyebut warga desa hingga kini belum mendapatkan bantuan distribusi air selain dari Balai Wilayah Sungai (BWS) V Mamuju. Namun bantuan air dari BWS tidak mencukupi karena kapasitas mobilnya terbatas dan tidak setiap hari mendistribusikan air.