Catatan CAMS menunjukkan kebakaran hebat mulai melalap sejumlah titik sejak akhir Juli. Meski polanya dianggap normal secara musiman, namun persistensi api di tengah upaya pengurangan pembakaran lahan pertanian dan pengendalian kabut asap di kawasan regional tetap menjadi alarm bahaya.

Tantangan tahun ini diprediksi jauh lebih berat. Pasalnya, kondisi positif El Nino Southern Oscillation (ENSO) di kawasan Pasifik ekuatorial sedang kuat-kuatnya. Fenomena ini biasanya membawa kekeringan ekstrem di Indonesia, apalagi jika berbarengan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Menurut analisis CAMS, kemunculan IOD positif kali ini berlangsung beriringan dengan perkembangan El Nino yang luar biasa. Walaupun secara teori kedua fenomena iklim ini bisa berkembang masing-masing, namun 'duet' keduanya jelas memperburuk situasi.

Saat ini, IOD memang masih dalam status netral, namun diprediksi kuat akan segera bergerak menuju kondisi positif. Sistem pemantauan atmosfer Copernicus menjelaskan bahwa titik api awal musim ini terkonsentrasi di Pulau Kalimantan, terutama di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Wilayah ini menjadi perhatian serius karena memiliki lahan gambut luas yang sangat sulit dipadamkan jika sudah terbakar hebat.