Meski jumlah menurun, kebutuhan dasar para pengungsi masih tetap terpenuhi melalui dukungan dapur lapangan dan water treatment dari Brimob. Selain itu, Posko Polres Nagekeo setiap malam masih melaksanakan kegiatan pelayanan kepada pengungsi melalui nonton bersama dengan menyediakan snack dan minuman hingga pukul 23.00 Wita sebagai bentuk dukungan moril dan pelayanan selama berada di lokasi pengungsian.
"Berdasarkan hasil koordinasi dengan wakapolres, sampai dengan saat ini belum terdapat keluhan dari pengungsi terkait kekurangan logistik maupun kebutuhan dasar lainnya. Situasi di lokasi pengungsian secara umum masih aman dan terkendali," jelas Rachmat.
Rachmat mengungkapkan beberapa lokasi pengungsian seperti di Desa Dadi Wuhu, termasuk pengungsian di Gereja Stella Maris, sudah kosong, Masyarakat yang mengungsi telah diarahkan oleh pemerintah daerah untuk kembali ke rumah masing-masing.
Menurut Rachmat, sesuai hasil rapat Forkopimda, dalam pelaksanaan masa tanggap darurat yang diperpanjang selama dua minggu terhitung mulai 29 Agustus 2026, pendistribusian bantuan selanjutnya akan dilakukan oleh pemerintah daerah melalui mekanisme dropping langsung kepada masyarakat. Pendistribusian nmelibatkan pihak kecamatan yang mengetahui betul masing-masing warganya.
Adapun perkembangan jumlah pengungsi di Posko Bedikari, pada 29 Agustus 2026 tercatat sebanyak 550 orang, sedangkan per hari ini jumlah pengungsi menjadi 349 orang. Pelayanan kebutuhan pengungsi di Posko Bedikari sampai saat ini tetap berjalan. Menurut Rachmat, hari ini terdapat permintaan kebutuhan khusus berupa kasur bayi dari ibu-ibu pengungsi, dan telah dipenuhi sebanyak lima unit kasur bayi sesuai dengan jumlah bayi yang membutuhkan.