"Biasanya sebulan sekali itu bisa kirim 20 sampai 30 ton. Sekarang mah paling hanya 3 sampai 4 ton saja karena cuma mengandalkan sisa-sisa yang masih ada," jelasnya.
Komoditas lain seperti cabai, singkong, dan padi di desa tersebut juga dilaporkan mulai meranggas.
Melihat kondisi yang semakin berat, pihak desa berharap adanya bantuan dari pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten. Selain penanganan debit air pertanian, pasokan air bersih untuk konsumsi harian warga saat ini sangat mendesak.
"Harapan kami ada hujan agar memulihkan debit irigasi. Kami juga mohon bantuan pemerintah, sebulan lalu kami sudah ajukan permintaan air bersih, minimal untuk minum warga agar tidak perlu membeli. Kalau untuk cuci pakaian masih bisa di sungai, tapi kalau untuk konsumsi minum tentu butuh bantuan pasokan," pungkas Eman.