Eman menjelaskan, petaka kekeringan ini dipicu tidak adanya hujan serta mengecilnya debit air saluran irigasi. Saat dicek langsung ke hulu di bendungan kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, debit air memang mengalami penyusutan drastis.
Kondisi ini praktis memukul perekonomian warga desa. Selama dua tahun ke belakang, perkebunan kumis kucing merupakan tumpuan utama yang mempekerjakan banyak warga lokal. Akibat gagal panen, mayoritas buruh tani terpaksa dirumahkan.
"Dari 40 orang pekerja, kurang lebih 60 persen dirumahkan. Hanya sekitar 15 orang yang masih dipekerjakan karena tersebar di 17 titik lokasi di empat kedusunan," tutur Eman.
Dampak kemarau ini turut memukul pasokan pasar. Padahal, hasil panen kumis kucing dari Ambarjaya biasanya dikirim ke pabrik di Jawa Tengah untuk kemudian diekspor ke sejumlah negara seperti Jerman, Rusia, China, hingga Korea.