"Awalnya kita buat desain sendiri, kayaknya ini bakal enak buat mereka. Tapi ternyata waktu kita ke lapangan lagi, mereka tidak terbiasa," cerita Regia.
Masukan tersebut membuat mereka menyempurnakan rancangan dengan mengacu pada pedoman aksesibilitas digital WCAG.
Setelah sekitar empat bulan pengembangan, NovaSight menjalani pengujian awal bersama siswa tunanetra untuk melihat bagaimana aplikasi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran matematika.
Hasilnya cukup menjanjikan. Dalam pilot testing yang dipaparkan tim I-SEUNG, seorang siswa tunanetra berhasil menjawab benar empat dari lima soal matematika dalam waktu 15 menit tanpa pendampingan guru.
Pengujian tersebut memanfaatkan fitur Annoter, Quizzer, dan Scriber untuk membantu siswa memahami materi, mengerjakan soal, serta mencatat langkah-langkah penyelesaiannya.
Salah satu siswa yang merasakan manfaat NovaSight adalah Irman, pelajar tunanetra kelas XI di SLB Negeri A Citeureup, Cimahi.
"Alhamdulillah, dengan adanya NovaSight saya terbantu dalam memahami materi matematika, terutama saat bertemu grafik dan diagram. Saya juga bisa mengerjakan soal dan mencatat langkah-langkah penyelesaian secara mandiri tanpa harus selalu didampingi guru," ujar Irman dalam testimoni yang ditampilkan saat presentasi.
Tanggapan positif juga datang dari Bayu, guru matematika yang turut mencoba aplikasi tersebut.
"Fitur-fiturnya jelas dan mudah dipahami, sehingga memudahkan guru dan siswa juga dalam menggunakannya. Aplikasi seperti ini juga masih jarang saya temui, terutama yang dirancang khusus untuk membantu pembelajaran matematika bagi siswa tunanetra," ungkapnya.