Meski hasil awal menunjukkan potensi yang menjanjikan, pengujian NovaSight masih terbatas. Keberhasilan seorang siswa menjawab empat dari lima soal belum dapat dijadikan ukuran efektivitas aplikasi bagi seluruh siswa tunanetra.

Tim masih perlu melakukan pengembangan dan pengujian lebih luas untuk memastikan kemampuan, kenyamanan, serta konsistensi aplikasi dalam mendukung pembelajaran matematika.

Di balik kemenangan ini, tim I-SEUNG ternyata nyaris melewatkan kesempatan mengikuti Samsung Solve for Tomorrow 2026.

Keempat mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Code Lens Unikom itu mengetahui kompetisi melalui Instagram, tetapi sempat menunda pendaftaran. Beruntung, masa registrasi diperpanjang.

"Kami sebenarnya tim yang hampir telat karena menunda untuk mendaftar. Ternyata diperpanjang. Dan SFT ini membawa kami sampai ke titik ini. Kami enggak nyangka juga, alhamdulillah dapat juara satu," ungkap Regia.

Kini, setelah menjadi juara, I-SEUNG berencana terus mengembangkan NovaSight agar bisa digunakan lebih luas, dimulai dari Jawa Barat.

Saat ini, NovaSight masih dalam tahap beta dan belum tersedia untuk diunduh masyarakat umum. Tim juga berharap mendapatkan dukungan investor untuk membiayai pengembangan dan operasional AI.

Bagi keempat mahasiswa Unikom tersebut, kemenangan di Samsung Solve for Tomorrow 2026 bukan sekadar prestasi dalam kompetisi teknologi.

Melalui NovaSight, mereka ingin membuktikan bahwa kecerdasan buatan dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat, termasuk membuka kesempatan belajar matematika yang lebih mandiri dan inklusif bagi siswa tunanetra.