NADIKABAR.COM — Empat siswa SMAN 81 Jakarta menciptakan Aerospora, alat pemurni udara berbasis lumut yang dipadukan dengan kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT). Inovasi yang dirancang untuk membantu mengurangi polusi udara, khususnya partikel halus PM2.5, ini berhasil meraih juara pertama Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026 kategori SMA/SMK/MA.

Aerospora dikembangkan oleh tim Bryotech Alpha yang beranggotakan Azka, Vania, Keanu, dan Ageela. Perangkat ini dirancang menyerupai dinding hijau yang dapat dipasang di lobi perkantoran maupun area semi-indoor, sehingga tidak hanya membantu meningkatkan kualitas udara tetapi juga mempercantik ruangan.

Siapa sangka lumut yang biasa tumbuh di tempat lembap bisa menjadi inspirasi teknologi pemurni udara? Tim Bryotech Alpha melihat potensi tanaman tersebut untuk menghadirkan solusi lingkungan yang lebih dekat dengan alam.

"Kami melihat Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang hijau, apalagi di perkotaan. Kami melihat desain dari lumut sendiri dan juga fungsi keindahannya bisa berdampak besar pada lobi gedung-gedung di Jakarta," ungkap Azka, perwakilan tim Bryotech Alpha saat ditemui usai pengumuman pemenang SFT 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Aerospora memanfaatkan lumut sebagai komponen utama biofiltrasi udara. Agar tanaman tersebut tetap sehat dan dapat menjalankan fungsinya, tim Bryotech Alpha mengintegrasikan berbagai sensor, mikrokontroler, serta teknologi AI.

Perangkat berukuran 120 x 50 cm dengan ketebalan 20 cm ini menggunakan sensor PMS5003 untuk memantau konsentrasi partikel PM2.5, DHT22 untuk mengukur suhu dan kelembapan udara, serta sensor kelembapan media tanam.

Sistemnya dikendalikan mikrokontroler ESP32 dan ESP32-S3 yang mendukung Predictive Hydration Model berbasis TinyML. Teknologi ini dirancang untuk memprediksi risiko kekeringan lumut dan mengaktifkan penyiraman otomatis sebelum tanaman mengalami kekurangan air.

Berbeda dengan sistem penyiraman konvensional yang baru bekerja setelah media tanam kering, Aerospora mengutamakan tindakan pencegahan. Pompa misting 12 volt diaktifkan sesuai kebutuhan sehingga penggunaan air dan listrik berpotensi lebih efisien.

Menariknya, Aerospora juga dirancang memanfaatkan air kondensasi AC yang biasanya terbuang sebagai salah satu sumber air penyiraman lumut.

Untuk memudahkan pemantauan, tim menghadirkan dashboard VERA atau Visual Environment Real-time Analytics. Sistem ini menampilkan informasi kualitas udara dan kondisi lingkungan secara real-time melalui tablet Samsung bekas yang dimanfaatkan kembali.

Dashboard VERA juga dilengkapi chatbot AI sebagai sarana edukasi untuk membantu pengguna memahami informasi mengenai kualitas udara dan lingkungan.

Dari sisi harga, Bryotech Alpha menargetkan Aerospora dapat dipasarkan seharga Rp 1,2 juta, dengan konsumsi listrik sekitar 15–25 watt dan cakupan ruangan 50–80 meter persegi.

Meski demikian, angka tersebut masih merupakan target pengembangan yang dipaparkan tim, bukan hasil pengujian independen mengenai efektivitas pemurnian udara.

Di balik teknologi Aerospora, perjalanan keempat siswa SMAN 81 Jakarta mengembangkan inovasi ini ternyata penuh tantangan. Mereka mengaku belum memiliki pengetahuan dasar tentang AI maupun IoT ketika pertama kali memulai proyek.

"Jujur, kami benar-benar nol dalam hal IoT dan juga AI. Kami benar-benar belajar dari nol, sampai rela ke Bandung untuk belajar bagaimana cara bekerjanya," tutur Vania.

Perjalanan ke Bandung menjadi bagian penting dalam proses pengembangan Aerospora. Di sana, mereka mendapat bantuan untuk mempelajari dasar-dasar elektronika, mikrokontroler, dan cara mengintegrasikan berbagai komponen.

Tantangan tidak berhenti pada pemrograman. Mereka juga harus merancang sendiri struktur panel PVC, memasang lumut, menyusun lapisan media tanam, hingga membuat sistem perpipaan agar perangkat dapat berfungsi dengan baik.

Salah satu pengalaman yang paling diingat adalah ketika prototipe awal mengalami masalah akibat air dari sistem penyemprotan merembes ke bagian bawah perangkat.

"Awalnya kami memang tidak ada pipa di bawahnya. Ternyata setelah di-misting, airnya merembes ke bawah. Wah, banjir nih. Akhirnya kami buat pipanya," cerita Aqeela.

Kejadian tersebut membuat mereka harus memperbaiki desain dan menambahkan saluran pembuangan air. Berbagai komponen kemudian disesuaikan melalui proses percobaan berulang kali.

Selama mengikuti Samsung Solve for Tomorrow 2026, tim Bryotech Alpha juga memperoleh pendampingan dari Samsung, mulai dari Design Thinking, AI Amplification, hingga pembuatan konten video untuk mempresentasikan inovasi mereka.

Keikutsertaan Bryotech Alpha dalam Samsung Solve for Tomorrow terinspirasi dari keberhasilan alumni SMAN 81 Jakarta yang sebelumnya mengikuti kompetisi serupa dan meraih penghargaan People's Choice Award pada 2025.

Mereka kemudian membentuk tim dengan pembagian tugas masing-masing. Azka dan Ageela berperan dalam pengolahan data dan desain, Vania menangani pemrograman, sedangkan Keanu dipercaya menjadi pemimpin tim.

Kerja keras keempat siswa tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika Aerospora diumumkan sebagai juara pertama Samsung Solve for Tomorrow 2026 kategori SMA/SMK/MA.

Namun, bagi Bryotech Alpha, kemenangan tersebut bukan akhir perjalanan. Mereka ingin terus menyempurnakan Aerospora hingga suatu saat dapat diterapkan secara lebih luas.

"Kami tidak akan berhenti di sini. Kami memiliki harapan yang begitu besar bahwa Aerospora ini tidak berhenti sebagai produk yang menjadi juara satu, tetapi menjadi produk yang bisa menjadi standar untuk seluruh Jakarta," ujar Keanu.

Bahkan, mereka berharap inovasi tersebut kelak dapat dikembangkan ke berbagai wilayah Indonesia hingga menjangkau pasar global.

Melalui Aerospora, keempat siswa SMAN 81 Jakarta ingin membuktikan bahwa solusi teknologi untuk persoalan lingkungan tidak selalu harus berawal dari sesuatu yang rumit. Lumut yang selama ini dianggap tanaman sederhana pun berpotensi menjadi bagian dari inovasi pengendalian polusi ketika dipadukan dengan kreativitas, AI, dan IoT.