NADIKABAR.COM — Kecerdasan buatan (AI) Google ikut membantu mengungkap dua celah keamanan kritis PHP yang dikenal sebagai PHP2Shell. Kerentanan yang berpotensi mengancam jutaan website ini ditemukan melalui penelitian yang melibatkan sejumlah model AI, termasuk Gemini 4 Argon.
Menariknya, AI membantu peneliti menemukan dan menguji celah keamanan yang telah tersembunyi lebih dari satu dekade. Pekerjaan yang sebelumnya diperkirakan membutuhkan tim ahli selama berbulan-bulan dapat diselesaikan seorang peneliti dalam sekitar satu minggu.
Dalam pengumuman resmi pada Rabu (21/10/2026), Google Cloud mengungkapkan bahwa Gemini 4 Argon membantu peneliti menemukan kerentanan, mengembangkan metode pengujian serangan, mendeteksi ancaman, hingga memastikan perbaikan keamanan bekerja dengan baik. Penjelasan tersebut disampaikan Chris Betz, Chief Information Security Officer (CISO) Google Cloud, bersama Raluca Ada Popa, Head of Gemini Security Google DeepMind.
Penelitian dilakukan oleh Wiz Research dengan memanfaatkan sejumlah model AI, termasuk Wiz Atlas, Gemini 4 Argon, dan GPT-5.6 Sol.
Menurut Wiz Research, penggunaan AI mempercepat penelitian keamanan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan sumber daya besar. AI tidak hanya membantu menemukan kesalahan dalam kode program, tetapi juga mengembangkan metode untuk membuktikan apakah celah tersebut dapat dieksploitasi.
Penelitian dimulai pada 19 Agustus 2026. Sehari kemudian, tim berhasil mengonfirmasi kemungkinan eksekusi kode jarak jauh tanpa autentikasi pada Drupal.
Pada 21 Agustus, metode serupa berhasil dibuktikan pada WordPress. Temuan kemudian dilaporkan kepada tim keamanan PHP pada 24 Agustus sebelum akhirnya diumumkan kepada publik pada 21 Oktober 2026.
Keberhasilan ini menunjukkan bagaimana AI dapat mempercepat identifikasi kerentanan yang sebelumnya sulit ditemukan melalui penelitian keamanan konvensional.
Dua kerentanan PHP2Shell diidentifikasi sebagai CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619. Keduanya memiliki tingkat keparahan 9,2 dari skala 10 berdasarkan CVSS 4.0.
Dilansir dari Google Cloud Blog, Kamis (22/10/2026), kedua celah berada pada inti mesin PHP dan berpotensi memungkinkan penyerang menjalankan kode dari jarak jauh tanpa autentikasi maupun mengakses informasi sensitif dalam memori server.
Kerentanan pertama berkaitan dengan kesalahan penanganan memori ketika PHP kehabisan kapasitas. Sementara itu, celah kedua memungkinkan sistem mengakses kembali data internal yang memorinya telah dibebaskan.
Ancaman ini menjadi perhatian karena PHP digunakan oleh sekitar 70% website di internet, termasuk yang berbasis WordPress, Drupal, dan Joomla. Namun, bukan berarti seluruh website tersebut otomatis rentan karena risiko bergantung pada versi PHP dan konfigurasi server.
Google Cloud memastikan infrastrukturnya tidak terdampak, tetapi aplikasi PHP milik pelanggan yang berjalan di platform tersebut tetap berpotensi rentan.
Untuk mengatasi PHP2Shell, pengembang PHP telah merilis pembaruan keamanan melalui versi 8.2.35, 8.3.36, 8.4.27, dan 8.5.12.
Pengguna disarankan segera memperbarui PHP ke versi yang telah ditambal atau versi lebih baru yang masih didukung. Sementara itu, PHP 8.1 dan versi sebelumnya tidak lagi mendapatkan pembaruan keamanan resmi.
Google Cloud juga menyediakan pembaruan otomatis untuk lingkungan App Engine dan Cloud Run yang mendukung serta mengaktifkan mekanisme tersebut. Pengguna yang mengelola container sendiri tetap harus memperbarui PHP dan menerapkan ulang aplikasinya.
Sebagai perlindungan tambahan, Google menyarankan penggunaan Web Application Firewall (WAF), termasuk Cloud Armor, untuk membantu mengurangi risiko serangan. Namun, langkah ini bukan pengganti pembaruan keamanan PHP.
Kasus PHP2Shell sekaligus memperlihatkan peran ganda AI dalam keamanan siber. Teknologi ini dapat mempercepat penemuan dan perbaikan celah keamanan, tetapi kemampuan serupa juga berpotensi dimanfaatkan penyerang.