Sebaliknya, jika hutan biasa ditebang, karbon yang lepas hanya berasal dari pohonnya. Namun, jika lahan gambut dikeringkan (melalui pembuatan kanal atau dibakar untuk perkebunan), lapisan karbon bawah tanah yang tersimpan selama ribuan tahun akan teroksidasi dan lepas secara masif ke atmosfer. Lahan yang tadinya berfungsi sebagai carbon sink (penyerap karbon) seketika berubah menjadi carbon source (sumber emisi karbon) raksasa. Ilmuwan Kjell Kühne dari University of Leeds, Inggris menyebut fenomena ini sebagai carbon bombs (bom karbon).
Pelepasan emisi tersebut selanjutnya akan berkontribusi pada bumi yang makin panas dan akibatnya gambut makin mudah terbakar lagi, sebuah lingkaran berbahaya yang saat ini terjadi.
Profesor Gusti Zakaria Anshari, guru Besar Ilmu Tanah di Universitas Tanjungpura di Kalimantan Barat dan peneliti lahan gambut tropis terkemuka dunia menduga bahwa Indonesia telah melewati titik kritis (tipping point) lahan gambutnya. Titik ini ditandai dengan kerusakan yang terus berlanjut dan membuat gambut tidak akan pernah bisa pulih sepenuhnya seperti sedia kala, bahkan jika kerusakan tersebut dihentikan.
"Kelapa sawit yang ditanam di lahan gambut, sebagian daunnya mengering, tidak ada airnya lagi. Itu menunjukkan daya simpan air di gambut itu sudah habis. Jadi sudah kritis. Sementara kalau musim kering, cari airnya sulit. Sungai pada mengering. Itu lah kalau fungsi gambutnya sudah hilang. Paling penting ini, fungsi-fungsi perubahan itu, seperti gambut mengering, emisi karbon yang sangat tinggi. Menurut laporan (lembaga Lingkungan PBB) UNEP juga, itu sifatnya irreversible (tak bisa dipulihkan)," kata Zakaria saat dihubungi NadiKabar.com.
Di luar gambut, berbagai sistem penyangga planet lainnya yang ada di Indonesia. Antara lain ekosistem hutan hujan tropis dan terumbu karang di lautan Indonesia, keduanya juga mengalami kerusakan parah dan nyaris tak mungkin dipulihkan. Dalam studi tentang terumbu karang, ilmuwan dunia meyakini tipping point untuk karang sudah terlewati.
Bukan cuma di Indonesia, yang memiliki sekitar seperlima kekayaan karang dunia, pemutihan karang besar-besaran terjadi tahun 2016 dan 2023-2024. Karang butuh sekitar 10-15 tahun untuk pulih sehingga dengan siklus pemutihan yang begitu cepat, terumbu karang tidak akan bisa pulih selamanya.
Ilmuwan juga menyorot gletser di Puncak Jaya, Papua sebagai salah satu indikator tipping point lainnya. Salju abadi Cartensz ini dipekirakan akan habis mencair dalam beberapa tahun ke depan.