"Investigasi ini bukan sekadar tentang penipuan. Ini menyangkut upaya rezim asing yang bermusuhan untuk menyusup ke perusahaan-perusahaan AS melalui identitas curian dan akses tersembunyi di dalam wilayah kami sendiri," kata Jaksa Amerika Serikat untuk Distrik Utara Texas, Ryan Raybould, Selasa (13/10), dikutip dari situs Kantor Kejaksaan AS.
Menurut Raybould, pembongkaran kasus peternakan laptop ini akan memutus salah satu sumber pendapatan yang diandalkan pemerintah Korea Utara untuk mendanai program persenjataan yang mengancam stabilitas global.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala FBI Dallas R. Joseph Rothrock menyebut Operasi Lonestar Roundup bertujuan memberantas aktivitas siber berbahaya yang dilakukan pemerintah Korea Utara dalam mendukung program senjata pemusnah massal (WMD), rudal balistik, intelijen dan nuklir.
"Setiap laptop yang disita berpotensi mewakili satu perusahaan yang telah mempekerjakan IT Korea Utara," ujar Rothrock.
Berdasarkan hasil penyelidikan, para pekerja IT Korea Utara melamar dan mendapatkan pekerjaan jarak jauh dengan menggunakan dokumen identitas curian atau palsu. Mereka turut memanfaatkan jaringan privat virtual (VPN) dan sistem perantara yang digunakan untuk menjadi rute lalu lintas internet (proxy infrastructure) agar lokasi kerja mereka seolah-olah berada di AS.