Dalam menjalankan aksinya, mereka dibantu oleh pihak-pihak yang berbasis di AS. Para fasilitator ini menerima laptop dari perusahaan korban, menyimpan dan mengonfigurasi perangkat tersebut, memasang perangkat lunak akses jarak jauh serta menyalurkan penghasilan ke rekening yang dikendalikan oleh Korea Utara.

Perusahaan keamanan siber AS, CrowdStrike, mengidentifikasikan kelompok pekerja IT Korea Utara beserta fasilitatornya sebagai "Famous Chollima". Nama tersebut kini digunakan oleh banyak korban yang merujuk pada kasus tersebut.

Lebih lanjut, para penyelidik juga turut menemukan bahwa para pelaku diduga menggunakan sejumlah akun Google palsu untuk mendukung aktivitas kriminal ini.

Departemen Kehakiman AS menyebut investigasi terkait kasus ini masih terus berlangsung. Mereka turut berkomitmen untuk memberantas jaringan keuangan ilegal Korea Utara dan melindungi perusahaan-perusahaan AS dari skema penyusupan terselubung.