Bahlil menyebut konsumsi batu bara dunia mencapai 8,9 miliar ton per tahun, sementara volume yang diperdagangkan sekitar 1,3 miliar ton. Pada 2025, Indonesia menyumbang sekitar 540 juta ton atau 43 persen dari pasokan batu bara yang diperdagangkan di dunia.

Namun, besarnya pasokan tersebut tidak diikuti harga yang memadai. Bahlil mengatakan harga batu bara pada 2025 berada di level rendah sehingga keuntungan perusahaan dan penerimaan negara dinilai belum maksimal.

Kondisi itu juga membuat pembukaan lahan produksi berlangsung besar-besaran ketika komoditas dijual dengan harga murah.

Ia kemudian memutuskan memangkas RKAB untuk mengendalikan pasokan di pasar. Bahlil mengklaim kebijakan tersebut berdampak pada kenaikan harga batu bara, meskipun produksi menurun.

"Apa yang terjadi? Hari ini harga batu bara bisa mencapai US$154 untuk kalori 63,3. Ini strategi. Ini strategi karena kita jaga supply and demand. Pendapatan negara kita melonjak, produksi turun. Jadi produksinya terkoreksi menurun, tapi pendapatannya naik," ujarnya.

Bahlil mengatakan pengaturan produksi juga mempertimbangkan pemerataan kesempatan bagi perusahaan tambang. Ia membandingkan jumlah perusahaan yang mengajukan RKAB pada 2025 sebanyak 500 perusahaan dengan 650 perusahaan pada 2026.

Menurut dia, pemangkasan produksi terhadap perusahaan besar diperlukan agar kuota produksi juga dapat dialokasikan kepada perusahaan yang lebih kecil. Ia menyebut kebijakan RKAB dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan pasokan dan permintaan, bukan sekadar meningkatkan volume produksi.

"RKAB kita lakukan untuk sektor batu bara dengan memperhatikan supply and demand. Idealnya produksi kita banyak, harganya bagus. Tapi kalau pada saat harganya tidak bagus, jangan kita jorjoran," kata Bahlil.

Arahan Bahlil mengenai pengiriman langsung sumber daya alam muncul setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia sedang berada dalam kondisi bertahan atau survival.