NADIKABAR.COM — Badan Gizi Nasional (BGN) buka suara merespons kabar pangkas relawan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). BGN menyatakan tidak ada kewajiban pengelola dapur MBG mengurangi jumlah tenaga relawan.

Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan pihaknya hanya memberikan alternatif perhitungan kebutuhan relawan berdasarkan jumlah penerima manfaat yang dilayani setiap dapur.

Menurutnya, perhitungan tersebut dengan tetap memperhatikan batas maksimal biaya operasional Rp 3.000 per penerima manfaat per hari.

"Perlu kami sampaikan bahwa tidak ada kewajiban bagi dapur SPPG untuk mengurangi relawan. Kami hanya memberikan alternatif perhitungan kebutuhan relawan SPPG per hari berdasarkan jumlah penerima manfaat," ujar Tysa dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).

Tysa menjelaskan, alternatif perhitungan tersebut disusun untuk membantu mitra SPPG menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja dengan kapasitas pelayanan masing-masing dapur. Dengan demikian, jumlah relawan yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan banyaknya penerima manfaat yang dilayani.

Berdasarkan alternatif perhitungan BGN, SPPG dengan jumlah penerima manfaat lebih dari 3.000 orang dapat menggunakan acuan kebutuhan 47 relawan per hari.

Sementara itu, untuk 2.500-2.999 penerima manfaat sebanyak 42 relawan, 2.000-2.499 penerima manfaat sebanyak 33 relawan, 1.500-1.999 penerima manfaat sebanyak 24 relawan, serta 1.000-1.499 penerima manfaat sebanyak 15 relawan.

Tysa menegaskan, angka tersebut merupakan alternatif kebutuhan tenaga, bukan batas maksimal jumlah relawan yang diperbolehkan bekerja di SPPG. Dapur tetap dapat memiliki jumlah relawan lebih banyak dari angka acuan tersebut selama total biaya operasional tidak melebihi pagu maksimal Rp3.000 per penerima manfaat per hari.

"Bagaimana jika jumlah relawan melebih angka alternatif kebutuhan tadi? tidak apa apa asalkan biaya operasionalnya tidak melebih pagu 3000 rupiah per penerima manfaat per hari," terang Tysa.

Ia menjelaskan kebutuhan tenaga relawan pada dasarnya disesuaikan dengan skala pelayanan. Semakin besar jumlah penerima manfaat yang dilayani, semakin besar pula kebutuhan tenaga yang dibutuhkan begitupun sebaliknya.

Sebagai alternatif pengaturan, mitra SPPG juga dapat menerapkan sistem shifting atau pergiliran jadwal kerja relawan. Skema ini memungkinkan pengaturan tenaga kerja secara lebih fleksibel berdasarkan kebutuhan pelayanan harian tanpa harus melakukan pengurangan jumlah relawan secara langsung.

"Sekali lagi, kami tidak pernah meminta dapur SPPG untuk mengurangi jumlah relawan. Namun, para mitra dapat mencoba alternatif pengaturan melalui sistem shifting relawan setiap harinya sesuai dengan kebutuhan dan jumlah penerima manfaat yang dilayani," imbuh Tysa.