Kelompok di balik saluran Telegram Leakers$ mengungkapkan kepada media The Cairo Report bahwa mereka tidak meretas fisik papan iklan satu per satu, melainkan mengeksploitasi celah keamanan pada perangkat lunak pengirim konten ke layar LED.
Peretas menggunakan nama samaran Never, 19ylegal, CH, dan Nivex. Mereka mengidentifikasi ribuan sistem yang rentan hanya lewat pemindaian acak otomatis (automated random scan) selama kurang lebih dua jam.
"Ini adalah celah asli pada software yang bertanggung jawab mentransmisikan konten ke layar LED. Operasi ini sama sekali tidak serumit yang dibayangkan orang-orang. Perusahaan menghabiskan jutaan dolar untuk membangun infrastruktur di berbagai negara, tetapi meninggalkan layar LED dan jaringan iklan terhubung ke internet tanpa perlindungan dasar sama sekali," ungkap perwakilan peretas.