Kendati demikian, Singgih selalu melewati kos di Candisari itu setiap kali ia ke Semarang, berharap ada tanda-tanda putrinya kembali ke situ.
"Tapi saya tetap, kalau pas saya jalan ke Semarang, saya selalu lewat kos tersebut untuk melihat, mencari benar enggak ada motornya. Siapa tahu tiba-tiba pas saya lewat ada atau gimana. Tapi ternyata sampai penemuan ini, sampai pemeriksaan terakhir, tidak ada motor tersebut ataupun sandal ataupun anak saya di kos tersebut," kata Singgih.
Diberitakan sebelumnya, kasus hilangnya Mozza Axillia Gunarsa (17) terungkap setelah penemuan kerangka di jurang jalan tol wilayah Jangli, Kota Semarang. Penemuan kerangka ini berawal dari pengakuan pelaku, Mahendra Very Dwi Anggara (22) yang ditangkap pada Kamis (3/9) di Blora.
Hilangnya Mozza dilaporkan pihak keluarga pada 28 Juni 2025. Pembunuhan terhadap Mozza ini terungkap usai polisi menemukan bukti berupa chat di akun Instagram korban yang masih tertaut di ponsel yang dimiliki orang tuanya.
Berdasarkan pengakuan Very, pembunuhan Mozza dilakukan pada 25 Juni 2025. Diketahui, dia dihabisi dengan cara dibekap di kamar kos wilayah Candisari, Kota Semarang. Pembunuhan ini dilakukan setelah korban dengan pelaku terlibat cekcok karena cemburu.
Setelah dibunuh, jasad Mozza dimasukkan ke dalam karung. Very lalu membuang jasad Mozza di jurang Jalan Tol Jangli dengan mengendarai sepeda motor. Kerangka Mozza dievakuasi petugas pada Jumat (4/9/2026).
Setelah membunuh Mozza, Very berupaya menghilangkan jejak dengan menjual sepeda motor korban. Pelaku juga langsung pergi tanpa pamit dari kos TKP pembunuhan itu dan pulang ke rumahnya di Blora.
Very juga sempat mereset ponsel Mozza dan membuangnya di Kota Lama Semarang. Kartu identitas Mozza juga dibuang terpisah di wilayah Jalan Dokter Cipto Semarang.