"Akhirnya saya ubah semua password emailnya yang saya untuk pribadi saya sendiri. Terus aplikasi itu saya instal, baru saya kembalikan lupa password. Akhirnya saya bisa membuka semua aplikasi itu dan saya bisa melihat isi DM, chat, dan semuanya teman-teman Mozza dari aplikasi tersebut," ucap Singgih.
Singgih lalu menemukan ada sebuah akun mencurigakan yang diduga milik pelaku dan kerap berinteraksi dengan Mozza. Temuan ini juga dia laporkan ke Polres Semarang.
"Baru ketemulah kalau di tabletnya itu ada sosial media dan lalu ada informasi tentang tersangka tersebut yang kebetulan pernah kita sampaikan ke Polres Semarang kalau akun ini mencurigakan," ungkap Singgih.
"Lainnya ada pengikut dan mengikutnya, tapi kok yang ini kok satu ini kok semuanya kosong. Tidak ada pengikutnya, tidak ada mengikutnya, dan postingan kosong. Tetapi DM-nya intensif ada dengan Mozza dan terakhir DM tanggal 22 Juni 2025," imbuhnya.
Berbekal tablet itu, Singgih juga mengetahui adanya sebuah kos di Candisari, Kota Semarang, yang belakangan diketahui sebagai tempat pembunuhan Mozza. Singgih melaporkan temuan ini pada polisi dan juga mendatangi langsung kos itu.
"Saya mencari dari ternyata ada informasi di tablet (terkait kos tersebut). Setelah saya laporkan ke pimpinan kemudian kanit bahwa ada laporan tersangka di kos tersebut. Karena belum ada laporan kembali dari pihak kepolisian tersebut, akhirnya saya memeriksa sendiri ke kosan tersebut," kata Singgih.
Singgih sempat bertanya-tanya kepada pemilik kos dan masuk ke dalam. Dia turut mencari sejumlah barang milik Mozza di kos itu, namun tidak menemukan apa pun.
"Saya meminta keterangan dari pemilik kos. Terus saya mengecek masuk ke dalam ke kos. Saya mintai barang bukti siapa tahu ada sandal anak saya atau motor apa tuh. Ternyata waktu di sana tidak ada apa pun. Makanya saya memutuskan untuk kembali," beber Singgih.