"Kami tidak meninggalkan tradisi-tradisi seperti itu karena kearifan lokal adalah faktor yang paling dominan selama ini," kata dia.

BMKG mendorong adanya diskusi dan kolaborasi dengan pihak-pihak yang selama ini menggunakan kalender Warige agar pengetahuan tradisional tersebut dapat diselaraskan dengan informasi cuaca dan iklim berbasis sains serta teknologi.

Nuga berharap, petani tidak hanya mengandalkan kalender tradisional, tetapi juga mempertimbangkan prakiraan cuaca dan iklim dalam menentukan waktu tanam serta mengantisipasi perubahan musim.

"Kami ingin memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat bahwa tidak hanya Wariga saja yang bisa dipakai dalam pola pertanian," kata dia.