Padahal, pada awal hingga pertengahan Oktober 2026, polutan halus PM2.5 di wilayah pemantauan seperti Musi 2 dan Talang Betutu sempat melonjak ekstrem hingga menembus angka 493 hingga lebih dari 1.000 µg/m³, yang menempatkannya jauh di dalam zona sangat berbahaya.
Menurut dia, penurunan status indeks kualitas udara itu disebabkan oleh operasi modifikasi cuaca yang dilaksanakan BNPB selama dua hari berturut-turut pada 15-16 Oktober 2026 guna mengatasi kabut asap akibat karhutla di Sumatera Selatan.
"Berkat penyemaian dry ice kualitas udara di Kota Palembang berangsur membaik dan meningkatkan jarak pandang secara signifikan," ujarnya.