NADIKABAR.COM — Jauh sebelum dunia mengenal letusan Gunung Tambora sebagai salah satu peristiwa vulkanik terbesar dalam sejarah, masyarakat Kesultanan Bima telah merekam jejak bencana tersebut dalam sebuah manuskrip kuno.
Catatan itu tidak hanya menyimpan ingatan tentang letusan pada 1815, tetapi juga merekam kehidupan, pemikiran, dan tata kelola sebuah peradaban di Pulau Sumbawa.
Manuskrip itu bernama Bo' Sangaji Kai. Kini, naskah warisan Kerajaan dan Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), tersebut mendapat pengakuan internasional setelah ditetapkan dalam Memory of the World Register for Asia and the Pacific (MOWCAP) UNESCO pada 5 November 2026.
Pengakuan tersebut bukan sekadar penghargaan terhadap sebuah dokumen berusia ratusan tahun. Lebih dari itu, Bo' Sangaji Kai menghadirkan perspektif masyarakat lokal tentang sejarah dunia, sekaligus memperlihatkan bahwa Bima memiliki tradisi literasi dan pengetahuan yang berkembang jauh sebelum zaman modern.