Manuskrip tersebut merekam berbagai peristiwa sejak abad ke-17 hingga abad ke-19. Salah satu catatan pentingnya adalah letusan Gunung Tambora pada April 1815 yang dampaknya meluas hingga memengaruhi iklim dan kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.

Bagi sejarah Bima, catatan tersebut memiliki arti penting karena menghadirkan kesaksian dari lingkungan masyarakat yang berada dekat dengan pusat peristiwa. Sejarah Tambora tidak hanya dapat dibaca melalui laporan peneliti dan penjelajah asing, tetapi juga melalui dokumentasi yang diwariskan masyarakat setempat.

Dewi menjelaskan, keistimewaan Bo' Sangaji Kai tidak berhenti pada kronik letusan Tambora. Naskah itu juga memuat hukum bandar Bima, hukum adat pertanahan, serta Undang-Undang Laut Malaka yang memperlihatkan hubungan Bima dengan perkembangan perdagangan dan tata kelola maritim pada masa lampau.

Catatan lainnya memperlihatkan kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat, termasuk tradisi Hanta Ua Pua yang masih dikenal hingga sekarang. Beragam informasi tersebut menjadikan Bo' Sangaji Kai sebagai sumber kajian lintas disiplin, mulai dari sejarah, politik, ekonomi, agama, pertanian, kehutanan, geografi, hingga perbintangan.