"Kami mencoba bertanya ke perusahaan umum yang belum secara eksplisit menerima disabilitas, mana tahu ada kesempatan," ujar Raka.

Hal senada disampaikan Faiz. Ia mengaku sudah tiga kali mendatangi acara job fair dan memasukkan lamaran ke delapan perusahaan berlainan. Sayangnya, hingga kini belum ada satu pun panggilan yang menghampirinya.

Masalahnya menurut Faiz, ketidakpastian terkait seleksi ini sangat membebani pikiran mereka dan membuang banyak waktu. Padahal, para pencari kerja Tuli ini punya keterampilan teknis yang siap diadu dan dibutuhkan di dunia kerja.

Faiz misalnya, ia mengaku memiliki kualifikasi di bidang administrasi, desain grafis, hingga pembuatan konten seperti videografi dan penyuntingan video (video editing). Sementara Raka menguasai pengoperasian perangkat administrasi kantor seperti Microsoft Office (Excel, Word, PowerPoint) serta kemampuan dasar di bidang IT.

Faiz menegaskan bahwa kondisi disabilitas Tuli ini sama sekali tidak memengaruhi produktivitas maupun kualitas kinerja di mereka. Dengan percaya diri, ia menyatakan datang ke bursa kerja itu dengan membawa keterampilan yang tidak kalah dengan pencari kerja lainnya.